Rumah ini milik Suku Korowai, dan buat orang luar, bentuknya kelihatan ekstrem banget ya teman-teman. Soalnya rumah mereka bisa berdiri di ketinggian 8 sampai 15 meter, bahkan ada juga yang kabarnya mencapai 45 meter dari tanah.
Tapi bagi Suku Korowai, rumah tinggi yang mereka sebut lu-op ini bukan sekadar tempat tinggal aneh di tengah hutan. Rumah ini adalah tempat mereka bertahan hidup di alam yang keras. Di bawah sana ada binatang buas, serangga hutan, dan berbagai bahaya lain yang bisa datang kapan aja. Jadi, dengan membangun rumah di atas pohon, mereka bisa merasa lebih aman sekaligus tetap hidup menyatu dengan lingkungan sekitar.
Proses pembangunannya juga sangat luar biasa. Para pria Korowai membangun rumah ini dari bahan-bahan yang mereka ambil langsung dari hutan, seperti batang pohon beringin untuk penyangga utama, lalu kulit pohon sagu untuk dinding dan lantainya. Yang bikin makin menakjubkan, struktur serumit ini dibuat tanpa paku sama sekali. Semuanya cuma mengandalkan ikatan tali rotan yang kuat, tapi hasilnya bisa menopang rumah di ketinggian yang bagi banyak orang mungkin terasa mustahil.Untuk naik ke rumahnya, mereka memakai tangga tunggal dari batang kayu yang diberi lekukan sebagai pijakan. Nah, uniknya lagi, ada tangga yang memang sengaja dibuat agak goyang. Fungsinya bukan karena asal-asalan ya, tapi sebagai alarm alami. Jadi kalau ada orang yang memanjat naik, penghuni di atas bisa langsung sadar dari gerakan tangganya.
Selain untuk perlindungan fisik, rumah tinggi ini juga punya alasan spiritual yang kuat. Suku Korowai percaya kalau hidup di tempat tinggi bisa membantu menjaga keluarga mereka dari gangguan roh jahat atau iblis yang mereka sebut laleo dan xaxua. Dalam satu rumah pohon, biasanya bisa tinggal beberapa keluarga yang masih berada dalam satu ikatan marga.Dan dari sini kelihatan banget kalau manusia bisa menciptakan arsitektur yang luar biasa tanpa harus bergantung pada teknologi modern, bukti bahwa kearifan lokal bisa menjadi jawaban yang sangat cerdas untuk menghadapi alam.